http://image.tempointeraktif.com/?id=41386&width=274
TEMPO Interaktif, Jakarta -Malam makin gelap di The Promenade Building Jakarta ketika 25 set busana hitam membuka pergelaran busana tunggal bertajuk "Paradiso Perduto" pertengahan Juni lalu. "Saya ingin merayakan femininitas," kata Jeffry Tan, perancangnya. Menurut Jeffry, hitam adalah warna yang memberi kesan misterius. Warna itu mampu menunjukkan karakter wanita tangguh yang hendak ditampilkan dalam rancangan ini.
Jeffry mengatakan saat ini banyak perempuan sangat mandiri dalam kehidupan sehari-hari. "Mereka membeli mobil dan membayar apartemen sendiri, membayar kartu kredit sendiri, tanpa bantuan laki-laki," katanya. Sosok alpha female itu yang menginspirasi Jeffry dalam koleksi Paradiso Perduto ini.
Paradiso Perduto berasal dari bahasa Latin yang berarti surga yang hilang. "Saya menggambarkan perempuan yang independen, yang dikejar-kejar pria pemburu dalam belantara tropical paradise," kata Jeffry. Dalam kesempatan ini, ia juga menyajikan beberapa busana lelaki: kemeja dan celana dengan banyak kantong--layaknya celana pemburu.
Bagian selanjutnya, pergelaran diisi busana berwarna netral. Jeffry menerjemahkan femininitas perempuan dalam 33 busana berwarna tropical paradise: hijau lemon, khaki, salmon, abu-abu, dan putih. Desain simpel, tegas, dengan detail unik menjadi ciri dari keseluruhan koleksi ini. Selain menggunakan linen, katun, denim, dan jersey, Jeffry menggunakan tenun ikat dan batik tulis sebagai pemanis pada beberapa bagian busana.
Jeffry bekerja sama dengan sebuah produsen sampo antiketombe untuk koleksi Paradiso Perduto. Model iklan sampo tersebut ikut memperagakan busana Jeffry malam itu. Ada model yang walaupun dari segi tinggi badan masih kurang mampu menampilkan aura model profesional dan membuat rancangan Jeffry lebih "menyala".
Tapi ada pula model yang tidak luwes, hanya berjalan di atas panggung tanpa memahami esensi menjadi seorang peragawati. Tentu ini sangat mengganggu. Beberapa lampu sorot yang dipasang di panggung terbuka berbentuk U itu juga salah tempat, sehingga penonton silau dan tak bisa melihat rancangan Jeffry dengan jelas.
Jeffry lahir di Surabaya, 26 tahun lalu. Lulusan ESMOD Jakarta pada 2005 ini pernah bekerja sebagai konsultan dan principal designer di sebuah perusahaan tekstil multinasional yang berpusat di Jakarta. Ia juga sempat bekerja di Insight Clothing, Sidney, Australia, dan Van Heusen Hong Kong sebelum akhirnya membuat labelnya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
gabung ,,,buat siapa aja yang pengen punya banyak teman.....